Sajadah terbentang rapi, takbir berkumandang pelan, dan wajah-wajah penuh harap menyatu dalam satu momen: pelaksanaan shalat Idul Fitri. Menariknya, jamaah yang hadir bukan hanya berasal dari kalangan Muhammadiyah, tetapi juga masyarakat umum dari berbagai wilayah.
Sejak pukul 06.00 Wita, arus jamaah terus berdatangan. Mereka datang dari penjuru Kota Baubau hingga daerah sekitar, termasuk dari Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton.
Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Baubau, Ma’ruf, menyebut pelaksanaan Idul Fitri ini mengikuti keputusan Muhammadiyah pusat, dengan salah satu lokasi dipusatkan di pelataran kampus tersebut.
“Pelaksanaan ini sesuai dengan Muhammadiyah pusat, dan salah satu titiknya di kampus Universitas Muhammadiyah Buton,” kata Ma’ruf.
Ia mengungkapkan, jumlah jamaah yang hadir diperkirakan mencapai lebih dari seribu orang. Bahkan, menurutnya, sebagian besar justru berasal dari luar Muhammadiyah.
“Yang datang bukan hanya warga Muhammadiyah, tapi lebih banyak dari luar. Ini menunjukkan kebersamaan itu tetap terjaga,” ujarnya.
Di tengah perbedaan penetapan hari raya, Ma’ruf menekankan pentingnya menjaga persatuan. Baginya, perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan menjadi kekuatan untuk saling memahami.
“Perbedaan ini justru menyatukan kita. Karena masing-masing punya dasar dalam syariat,” tambahnya.
Di antara jamaah, Agus, warga Pasarwajo, mengaku sengaja datang untuk ikut melaksanakan shalat Idul Fitri pada Jumat. Meski bukan bagian dari Muhammadiyah, ia memiliki keyakinan yang sama terkait penetapan hari raya tahun ini.
“Saya dari Pasarwajo. Memang bukan Muhammadiyah, tapi saya yakin lebaran hari Jumat, jadi saya ikut di sini,” katanya.
Pagi itu, di tengah perbedaan yang kerap muncul setiap tahun, pelataran kampus tersebut justru menjadi ruang temu—tempat di mana keyakinan yang beragam tetap bisa berdampingan dalam satu saf, dalam suasana yang khusyuk dan penuh kebersamaan.