Siswa MAN 1 Baubau Diduga Jadi Korban Bullying dan Penganiayaan, Tiga Gigi Patah

In Baubau

BAUBAU, WARAWARANEWS.com – Seorang siswa kelas XI Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), berinisial MAG, diduga menjadi korban perundungan atau bullying dan penganiayaan oleh teman sekelasnya berinisial RD.

Akibat penganiayaan tersebut, MAG mengalami luka serius pada bagian mulut. Tiga gigi bagian atas korban dilaporkan patah, bahkan sebagian mengalami kerusakan hingga menyangkut di gusi sehingga korban harus menjalani operasi di rumah sakit.

Pihak keluarga menyebut, penganiayaan itu diduga berawal dari perundungan di media sosial. Foto dan video korban disebut diunggah oleh teman-temannya hingga memicu persoalan di lingkungan sekolah.

Keluarga korban, Sufardin, mengatakan, peristiwa penganiayaan tersebut terjadi pada Sabtu (24/10/2026), saat jam terakhir pelajaran, ketika para siswa bersiap pulang sekolah.

“Awalnya dipicu dari perundungan di sekolah. Adik saya ini difoto dan videonya diunggah di media sosial sehingga terjadi perundungan. Saat adik saya mencari tahu persoalan itu, justru dia dipukul oleh teman sekolahnya,” kata Sufardin saat dikonfirmasi.

Menurut Sufardin, korban mengalami luka serius setelah dipukul pada bagian mulut. Selain bibirnya pecah dan membengkak, tiga gigi atas korban mengalami kerusakan hingga harus mendapatkan penanganan medis.

“Adik saya dipukul di bagian mulut. Bibirnya bengkak, tiga gigi atas ada yang patah dan juga menyangkut di gusi sehingga harus dilakukan operasi. Menurut dokter, kondisinya bisa menyebabkan cacat permanen,” ujarnya.

Sufardin menduga, adiknya telah menjadi sasaran pelaku sejak beberapa hari sebelum kejadian. Ia menyebut korban tidak melakukan tindakan yang memicu kekerasan secara langsung saat pemukulan terjadi.

Keluarga pun telah melaporkan kasus tersebut ke Polres Baubau untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Kami sudah melaporkan kejadian ini ke Polres Baubau. Kami juga meminta pertanggungjawaban pihak sekolah dan berharap pelaku diberikan sanksi yang tegas,” kata Sufardin.

Ia menilai, perundungan di lingkungan pendidikan tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele karena dapat berdampak terhadap kondisi psikologis dan masa depan anak.

Menurut dia, korban berpotensi mengalami tekanan mental dan rasa malu untuk kembali bersekolah setelah kejadian tersebut.

“Pembulian ini sangat fatal. Selain mengganggu mental, bagaimana kalau adik saya tidak mau ke sekolah lagi karena malu atau mengalami tekanan? Apalagi sampai terjadi kekerasan di lingkungan sekolah,” tuturnya.

Sufardin berharap kejadian serupa tidak kembali terulang dan pihak sekolah lebih serius dalam mencegah perundungan di antara siswa.

“Harapan saya, kejadian seperti ini jangan lagi terulang karena bisa merusak masa depan anak-anak,” ucapnya.

Kepala sekolah sebut pelaku akan diberi sanksi

Kepala MAN 1 Baubau, La Ode Rusdin Ato, mengatakan dirinya tidak berada di sekolah saat peristiwa tersebut terjadi karena sedang sakit. Ia memperoleh informasi mengenai kejadian itu dari wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, pemukulan terjadi sekitar pukul 13.30 Wita, ketika kegiatan belajar mengajar hampir selesai dan para siswa bersiap pulang.

“Menurut informasi dari wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, kejadian itu berkaitan dengan persoalan media sosial. Namun, kami belum mengetahui secara pasti apa motifnya sehingga terjadi pemukulan,” kata Rusdin.

Ia menjelaskan, setelah kejadian, korban mendapat pertolongan dari teman-temannya sebelum dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Pihak sekolah, lanjut Rusdin, akan memanggil siswa yang terlibat dan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui duduk perkara kejadian tersebut.

“Kami akan menyelesaikan masalah ini sesuai dengan tata tertib sekolah. Siswa yang bersangkutan akan dipanggil, kemudian keterangan korban juga akan kami cek untuk mengetahui bagaimana persoalan ini sebenarnya,” ujarnya.

Rusdin mengaku menyayangkan tindakan kekerasan tersebut, terlebih karena mengakibatkan korban mengalami luka serius. Ia mengatakan, siswa yang diduga melakukan penganiayaan sebelumnya telah beberapa kali mendapatkan pembinaan dari guru.

Sebagai tindak lanjut, pihak sekolah berencana menjatuhkan sanksi berupa pengembalian siswa kepada orangtua.

“Pelaku akan kami beri sanksi dikembalikan kepada orangtua. Ini merupakan sanksi paling tinggi di sekolah. Sebelumnya, kami juga sudah melakukan beberapa tahap pembinaan,” katanya.

Rusdin menambahkan, pihak sekolah sebenarnya telah mengingatkan siswa agar tidak melakukan perundungan, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Namun, kejadian tersebut menunjukkan perlunya pengawasan dan edukasi yang lebih intensif.

“Kami akan meningkatkan pembinaan dan mengarahkan guru untuk masuk ke kelas-kelas memberikan edukasi kepada siswa agar tidak melakukan perundungan. Kami selalu mengingatkan agar siswa saling menghargai,” tuturnya.

Pihak sekolah berharap penguatan edukasi tersebut dapat mencegah kejadian serupa terulang, sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang aman bagi seluruh siswa.

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Polres Bau Bau Gelar Pasukan Operasi Patuh Anoa 2026: Tekankan Pendekatan Humanis dan 10 Sasaran Prioritas

BAUBAU, WARAWARANEWS.com, — Kepolisian Resor (Polres) Bau Bau menggelar Apel Gelar Pasukan dalam rangka Operasi Patuh Anoa - 2026

Read More...

Langit Kepulauan Buton Diselimuti Asap, BMKG Duga Kiriman dari Papua dan Maluku

BAUBAU, WARAWARANEWS.com - Langit di sejumlah wilayah Kepulauan Buton, termasuk Kota Baubau, terpantau keruh keputihan sejak Senin (28/9/2026) siang. Kondisi

Read More...

Hiu Paus 9 Meter Terdampar di Pantai Matahora Wakatobi

WAKATOBI, WARAWARANEWS.com – Seekor hiu paus berukuran sekitar 9 meter ditemukan terdampar di perairan Dusun Rayon, Desa Matahora, Kecamatan

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu