BAUBAU, WARAWARANEWS.com – Langit di sejumlah wilayah Kepulauan Buton, termasuk Kota Baubau, terpantau keruh keputihan sejak Senin (28/9/2026) siang.
Kondisi tersebut bukan disebabkan kabut uap air. Berdasarkan hasil pengamatan Stasiun Meteorologi Kelas III Betoambari Baubau, kondisi asap mulai teramati sekitar pukul 13.00 WITA dengan jarak pandang yang menurun.
Operasional Bidang Observasi BMKG Baubau, Steviano Mardika Simorangkir mengatakan, jarak pandang di wilayah Baubau saat kondisi tersebut hanya berkisar 6 hingga 7 kilometer.
“Sejak 28 September kemarin, mulai dari siang hari, kabut asap ini diprediksi karena terbawa angin dari kebakaran hutan di wilayah tenggara Indonesia. Pengaruhnya ke kita, jarak pandang jadi berkurang,” kata Steviano, Senin.
Dalam siaran pers BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Betoambari Baubau Nomor e.B/ME.02.04/021/KBUW/IX/2026 tanggal 28 September 2026, disebutkan kelembapan udara saat pengamatan berada pada kisaran 50 hingga 61 persen.
Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa fenomena yang terlihat di langit Kepulauan Buton merupakan asap, bukan kabut akibat uap air.
Menariknya, jumlah titik panas yang terpantau di wilayah kerja BMKG Baubau justru mengalami penurunan. Pada 28 September 2026, hanya tercatat tiga titik panas.
Kondisi itu membuat BMKG menduga sumber asap bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Kepulauan Buton maupun daratan Sulawesi Tenggara.
BMKG Baubau menduga kuat asap tersebut merupakan kiriman dari kebakaran hutan dan lahan berskala besar di wilayah Papua Selatan yang bercampur dengan asap dari Maluku.
Asap kemudian terbawa oleh pola angin regional dari arah tenggara dan melintasi Laut Banda sebelum mencapai wilayah Kepulauan Buton.
Jarak antara Merauke dan Baubau sendiri sekitar 1.800 kilometer.
Steviano mengatakan, berdasarkan pemantauan BMKG, titik kebakaran yang saat ini diketahui berada di wilayah Papua dan Maluku Utara.
“Sumber kebakaran, titik api yang kami ketahui sekarang itu dari Papua sama Maluku Utara,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi asap di Baubau dalam beberapa hari ke depan sangat bergantung pada aktivitas kebakaran di wilayah sumber dan arah pergerakan angin.
“Kalau penyebaran kabut asap itu tergantung dari dua hal. Pertama, seberapa lama kebakaran hutan itu akan terjadi. Kedua, pergerakan anginnya,” kata Steviano.
Saat ini, pergerakan angin regional masih berasal dari arah tenggara. Apabila pola angin berubah, kondisi tersebut dapat memengaruhi ketebalan asap yang masuk ke wilayah Baubau.
“Kalau ada perubahan, kemungkinan akan berpengaruh terhadap ketebalan asapnya di wilayah Baubau,” ujarnya.
BMKG memperkirakan kondisi serupa masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan selama kebakaran di wilayah sumber dan pola angin belum mengalami perubahan.
BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap, terutama terhadap kesehatan dan jarak pandang.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.
“Sebisa mungkin kurangi aktivitas di luar rumah. Kalau harus keluar, dipastikan menggunakan masker untuk menghindari gangguan pernapasan dan minum air putih lebih banyak,” ujar Steviano.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan juga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Warga diminta memperbanyak konsumsi air putih dan menutup jendela apabila kondisi asap di luar rumah semakin pekat.
BMKG juga mengingatkan masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah yang dapat memperburuk kualitas udara.
Selain kesehatan, masyarakat yang berkendara di jalan raya serta pengguna transportasi laut dan penerbangan diminta mewaspadai kemungkinan penurunan jarak pandang akibat asap.



