BAUBAU, WARAWARANEWS.com – Ratusan warga memadati kawasan Benteng Sorawolio, Kota Baubau, Sabtu (1/8/2026), untuk mengikuti Layar Benteng Final Chapter, penutup rangkaian program Layar Benteng 2026 yang digelar Seribu Benteng Production.
Kegiatan tersebut menjadi akhir dari rangkaian pemutaran film yang sebelumnya digelar di lima lokasi bersejarah lainnya, yakni Benteng Keraton Wolio, Kampung Adat Wapulaka, Kampung Adat Wasuamba, Benteng Rongi, dan Kampung Adat Wabula.
Sejak sore hingga malam, masyarakat dari berbagai kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas, pegiat budaya, hingga keluarga memadati lokasi kegiatan. Antusiasme warga terlihat sepanjang rangkaian acara, mulai dari diskusi budaya hingga pemutaran film.
Ketua Pelaksana Layar Benteng, Andhy Loppes, mengatakan tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa film dapat menjadi media yang efektif untuk membangun ruang dialog sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
“Alhamdulillah, seluruh rangkaian Layar Benteng tahun 2026 telah berjalan dengan baik. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan melalui Program Dana Indonesiana yang dikelola LPDP, Pemerintah Kota Baubau, seluruh mitra, komunitas, relawan, para sineas, serta masyarakat yang telah mendukung kegiatan ini. Besarnya antusiasme masyarakat di setiap titik menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan ruang apresiasi film yang dekat dengan masyarakat sekaligus berkontribusi dalam pelestarian budaya Buton,” ujar Andhy.
Program Layar Benteng merupakan ruang pemutaran film berbasis budaya yang bertujuan memperkenalkan karya sineas lokal kepada masyarakat sekaligus menghidupkan situs-situs bersejarah sebagai ruang belajar, berdiskusi, dan berkesenian.
Selain pemutaran film, kegiatan juga menghadirkan Talk Show Film Budaya bertema “Film sebagai Ruang Merawat Ingatan, Budaya, dan Identitas Buton”.
Diskusi tersebut menghadirkan budayawan dan peneliti budaya Imran Kudus, filmmaker Keton Saputra, serta Sekretaris Daerah Kota Baubau, La Ode Darussalam, dengan moderator Emil La Pau.
Dalam diskusi itu, para narasumber menilai film memiliki peran penting sebagai media untuk mendokumentasikan sejarah, merekam tradisi, menjaga memori kolektif masyarakat, sekaligus memperkuat identitas budaya Buton.
Mereka juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, lembaga pendidikan, dan insan perfilman dalam membangun ekosistem perfilman daerah yang berkelanjutan.
Memasuki malam hari, panitia menggelar marathon pemutaran sembilan film karya sineas Baubau dari berbagai kategori.
Pemutaran diawali dengan film pelajar, yakni Inaaku karya MAN 1 Baubau dan Luminara karya SMA Negeri 1 Baubau.
Selanjutnya ditayangkan empat film terbaik hasil Lomba Video Konten Literasi Dinas Perpustakaan Kota Baubau, yaitu Lubang, Halaman Pertama, Di Ujung Pesisir Kami Menyalakan Harapan, dan Halaman yang Hampir Terlupakan.
Marathon film kemudian dilanjutkan dengan dua film peraih penghargaan Kompetisi Film Pendek Islami Nasional Kementerian Agama RI Tahun 2025, yakni Pekandeana Ana-ana Maelu sebagai Juara II dan Cahaya untuk Nur sebagai Juara I.
Sebagai penutup, panitia menghadirkan pemutaran perdana film dokumenter Palanto, produksi terbaru Seribu Benteng Production yang mengangkat tradisi Palanto sebagai warisan budaya masyarakat pesisir Buton.
Seluruh film yang diputar mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Penonton tetap bertahan hingga pemutaran terakhir sebagai bentuk apresiasi terhadap karya para sineas lokal.
Rangkaian Layar Benteng Final Chapter secara resmi ditutup oleh Sekretaris Daerah Kota Baubau, La Ode Darussalam.
Dalam sambutannya, Darussalam mengapresiasi konsistensi Seribu Benteng Production menghadirkan ruang apresiasi film di kawasan-kawasan bersejarah Kota Baubau.
Menurut dia, Layar Benteng telah membuktikan bahwa film tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga sarana pelestarian budaya, edukasi, dan ruang kolaborasi yang mempertemukan masyarakat dengan sejarah serta identitas daerah.
Ia menegaskan Pemerintah Kota Baubau akan terus mendukung berbagai kegiatan kebudayaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Program Layar Benteng 2026 terlaksana melalui dukungan Program Dana Indonesiana yang dikelola LPDP bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sebagai upaya memperkuat ekosistem perfilman berbasis komunitas dan budaya lokal.
Berakhirnya Layar Benteng Final Chapter sekaligus menandai selesainya seluruh rangkaian Layar Benteng 2026. Keberhasilan penyelenggaraan di enam lokasi dengan kehadiran ratusan hingga ribuan warga dinilai menjadi bukti bahwa film mampu menjadi media untuk memperkuat identitas budaya, menumbuhkan apresiasi terhadap karya sineas lokal, serta menjadikan Baubau sebagai salah satu pusat pertumbuhan perfilman dan kebudayaan di Sulawesi Tenggara.



