BAUBAU, WARAWARANEWS.com — Tangis harus ditahan seorang remaja asal Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, bernama Alif, saat mengikuti lomba gerak jalan indah dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di tengah barisan peserta, Alif menyimpan duka mendalam. Sang ibu meninggal dunia hanya beberapa jam sebelum dirinya mengikuti lomba.
Alif mengaku mengetahui kabar duka itu sekitar pukul 06.00 Wita, tepat pada hari pelaksanaan lomba.
“Saya tahu saat mau ikut lomba gerak jalan indah, mama sudah meninggal pas jam 6 pagi. Perasaanku sedih, menangis dan hancur,” kata Alif.
Meski hatinya hancur, Alif memilih tetap berangkat mengikuti lomba.
Keputusan itu diambil karena latihan untuk lomba telah dilakukan sejak jauh hari. Pelatih dan gurunya bahkan datang dari jauh ke Gonda untuk memberikan latihan kepada mereka.
“Sudah jauh hari Lathan (latihan) dan kasihan Pak Guru juga sudah datang jauh-jauh ke Gonda untuk beri latihan, terpaksa saya ikut,” ujarnya.
Alif berpikir, setelah lomba selesai dirinya masih bisa pulang dan bertemu dengan ibunya.
Namun, di tengah perjalanan menuju lokasi lomba, sebuah momen yang tidak pernah ia bayangkan terjadi.
Saat Alif bersama teman-temannya menaiki mobil Dalmas Satpol PP menuju lokasi lomba, mereka berpapasan dengan sebuah mobil ambulans di tikungan jalan depan Kompi Raja Wakaaka.
Di dalam ambulans itu terdapat jenazah ibunya.
Alif langsung mengenali mobil tersebut. Ia mengetahui ambulans itu membawa jenazah sang ibu karena kakaknya ikut berada di dalam mobil ambulans.
“Saya tahu, itu mobil ambulans yang membawa jenazah mamaku. Saya tahu karena kakakku ikut mobil ambulans itu. Jadi saya hanya lihat saja mobil ambulans itu, perasaanku sedih dan saya hanya tahan tangis saja,” tuturnya.
Di tengah kesedihan itu, teman-teman Alif berusaha menguatkannya. Mereka terus menghibur Alif sepanjang perjalanan hingga mengikuti lomba.
Teman-temannya bahkan memeluk Alif ketika dirinya tak mampu menahan tangis.
“Saat saya menangis, temanku peluk saya. Baru dia bilang sudah, jangan menangis dan ikhlaskan,” katanya.
Alif kemudian berusaha menguatkan diri dan tetap berada dalam barisan.
Sepanjang perlombaan, ia mencoba fokus mendengarkan setiap aba-aba dan mengikuti gerakan bersama anggota regu lainnya.
Namun, pikirannya tetap tertuju kepada sang ibu yang telah meninggal dunia.
Di balik langkah dan gerakan yang harus tetap kompak, Alif menahan kesedihan yang begitu dalam.
“Saya pikirkan, saya sudah rasa bersalah. Sampai di rumah juga saya menangis,” ujarnya.
Bagi Alif, sang ibu merupakan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Ia mengenang ibunya sebagai sosok yang cantik dan memiliki cita-cita agar anaknya kelak menjadi tentara.
Alif juga menyimpan penyesalan. Ia merasa masih memiliki banyak kesalahan kepada ibunya dan ingin meminta maaf.
“Mama saya cantik sudah. Cita-cita akan menjadi tentara,” katanya.
“Saya minta maaf, saya sudah salah sama mamaku, sudah kasih menangis, sudah kasih repot-repot mamaku dari subuh sampai malam cuma cari uang untuk makan,” sambung Alif.
Penyesalan itu kini menjadi bagian dari duka yang harus ia terima.
“Saya minta maaf karena sudah salah. Saya pengen bisa diulang lagi,” ucapnya lirih.
Meski demikian, Alif tetap menyelesaikan lomba gerak jalan tersebut.
Bukan semata-mata untuk mengikuti perlombaan, tetapi juga karena ingin memberikan kebanggaan kepada sekolahnya.
“Saya mau tetap ikut gerak jalan karena mau banggakan sekolahku,” kata Alif.
Hari itu, langkah Alif bukan sekadar langkah dalam sebuah perlombaan. Setiap gerakannya menjadi cara untuk bertahan di tengah kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di antara sorak-sorai peserta dan penonton, Alif berusaha tetap tersenyum dan melangkah, sementara hatinya tertinggal pada rumah dan sosok ibu yang untuk terakhir kalinya ia lihat dibawa dalam sebuah ambulans.



